Tampilkan postingan dengan label Desain Grafis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desain Grafis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2010

Visual sebagai simbol


Simbol visual sangat dekat di dalam kehidupan sehari-hari kita. Apalagi di kota-kota besar, kita dapat melihat begitu banyak simbol visual yang dipasang, seperti di area pertokoan, billboard, poster, kendaraan umum, bahkan t.shirt yang dipakai. Simbol-simbol visual tersebut memiliki berbagai makna, baik di dalam pergaulan sosial, ekonomi, personal hingga spiritual. Simbol visual tidak hanya terlihat di Negara kita, di seluruh dunia pun kita dapat melihat berbagai simbol visual.

Kenapa visual digunakan sebagai simbol?

Read More...

Senin, 02 November 2009

Pentingnya taste dalam desain grafis


Desain grafis bukanlah seni lukis yang seenak senimannya tanpa memikirkan apakah karyanya diterima oleh orang atau tidak. Karya desain grafis harus bisa diterima oleh orang lain yaitu konsumen. Salah satu unsur penting yang mempengaruhi hal tersebut adalah taste / selera desain.

Apa itu taste?

Setiap orang mempunyai taste yang berbeda. Banyak hal yang dapat membentuk taste sesorang diantaranya adalah pergaulan dan lingkungan sosial. Orang yang dibesarkan di lingkungan sosial kelas A , taste desainnya berbeda dengan yang dibesarkan di lingkungan kelas C. Pada pergaulan pun begitu.

Secara sederhana kita bisa lihat dari gaya desain pertokoan atau mall yang terdapat di 2 lingkungan tersebut. Kita bisa merasakan taste yang berbeda bila dalam satu hari kita memasuki ke dua tempat tersebut.

Atau kita memasuki 2 komunitas sosial yang berbeda, satu komunitas dari status sosial kelas A, yang lainnya dari kelas C.

Coba anda buktikan sendiri.

Kita bukan bicara soal desain pertokoan atau mall atau bagaimana bergaul tapi kita bicara soal desain grafis. Apa hubungannya?

Hubungannya sangat erat. Pada setiap pertokoan atau mall pasti terdapat elemen-elemen desain grafis seperti banner, logo, poster, warna, tipografi, ya kan? Nah, dari elemen-elemen tersebut, kita dapat melihar dan merasakan perbedaan taste desain pada kedua tempat yang berbeda lingkungan sosialnya. Pada pergaulan juga begitu, taste desain orang-orangnya tentu berbeda.

Andai saya yang dibesarkan di lingkungan status sosial kelas C, taste yang terbentuk pada diri saya adalah C. Untuk merubah taste yang terbentuk sejak kecil tidak mudah buat saya. Butuh proses dan waktu. Saya harus membiasakan diri memasuki lingkungan dengan status sosial yang lebih tinggi. Melihat dan merasakan bagaimana taste desain pada lingkungan status sosial A. Cara lain, melihat majalah, brosur, logo, buku dan materi desain grafis lainnya dengan taste desain kelas. A.

Sebagai contoh, jika suatu saat saya mendapat order desain grafis, dengan target market kelas A, tentu saya bisa fleksibel mengerjakannya yang sesuai dengan target marketnya atau dengan istilah lain sesuai dengan “Tone and Manner”. Tiba-tiba saya mendapat order desain lagi, bikin brosur untuk target market kelas C bahkan D, wah, ini lagi, taste saya dari kecil masih berasa, ga bakal hilang.

Akhirnya, desain model apapun, dari bergaya elegan sampai bergaya norak dan kampungan saya bisa mengerjakannya. Kalau sudah bisa begini, semakin mantaaap man…!

Read More...

Jumat, 30 Oktober 2009

3 unsur penting dalam kreatifitas desain grafis


Kreatifitas dalam desain grafis adalah mutlak. Kreatifitaslah yang membuat karya desain grafis menjadi mahal. Karena di dalam kreatifitas tedapat ide, estetika dan komunikasi. Ke tiga unsur ini adalah sebagai kreatifitas yang utuh, lengkap dan sempurna di dalam konsep komunikasi desain grafis.

Ide tanpa eksekusi yang baik dan menarik (estetika) tidak ada gunanya, ide dan estetika yang bagus tanpa disertai komunikasi yang benar juga sia-sia. Ke tiga unsur ini malah menjadi sesuatu yang mutlak bila kita ingin karya desain kita maksimal secara fungsi yaitu menarik dan menjual.

Contohnya, bila kita membuat desain brosur, berarti brosur tersebut akan menarik bila dalam 5 detik awal orang tertarik ingin melihat lalu menyentuh dan membaca brosur tersebut. Desain brosur yang menjual berarti adalah tahapan selanjutnya setelah melihat/membaca, konsumen mengerti isi / pesan brosur lalu penasaran terhadap produk yang diinfokan/dipromosikan di dalam brosur. Pengertian menjual disini adalah bukanlah dalam bentuk transaksi, tapi ketertarikan konsumen untuk mengetahui lebih jauh tentang produk dan ingin mencobanya.

Peran “copywriting / naskah” dalam hal ini memang sangat penting. Mau desainnya bagus dan semenarik apapun, bila naskah tidak mendukung ya sama juga bohong.

Unsur menarik terdapat pada komunikasi visual/desain, unsur menjual terdapat pada desain + naskah.

Memang menjadi tantangan tersendiri bagi desainer grafis ketika naskah yang diberikan tidak memiliki nilai jual. Cara penulisan dan isi tidak mendukung pesan / komunikasi produk, tidak mendukung konsep “Tone and manner” desain. Wah, kalau sudah begini memang repot sih, akhirnya kalau memang ga bisa dikompromiskan, apa boleh buat akhirnya kita tetap bikin desain yang ok, bagus, tapi naskah tidak mendukung…

Bayangkan coba, desain brosur ditujukan untuk remaja, tapi naskahnya dengan gaya penulisan “bapak-bapak”, serius. Ya, biarpun desainnya bagus dan menarik buat remaja, tapi kalau mereka ga mau baca isinya gimana…piye tokh!?

Mudah-mudahan ketika kita mendapat order desain, ga mendapat kendala seperti contoh di atas ya…..

Read More...

Senin, 26 Oktober 2009

Estetika dalam desain grafis


Desain grafis dan estetika adalah bagaikan wanita dengan rambutnya. Tanpa estetika desain grafis hanyalah sebatas informasi yang dilihat namun tidak memiliki kesan. Kesan disini seperti karakter seseorang yang membawa kesan terhadap orang lain. Makanya mengerjakan desain grafis haruslah dengan sepenuh hati sehingga estetika yang hadir tidak setengah-setengah. Kelihatan lho orang yang kerjanya setengah-setengah dengan yang full. Seperti kata mbah Surip (almarhum) “ I Love You Full”.

Apa itu estetika?

Mungkin pertanyaan ini muncul dari para pemula yang belum tahu desain grafis, dan ingin belajar desain grafis.

Estetika sebenarnya bukanlah mahluk asing seperti UFO yang kemarin sempat “heboh” katanya terbang di atas Jakarta (haha,.. ternyata belakangan diketahui foto yang menunjukkan adanya UFO di atas Jakarta tersebut hanyalah rekayasa digital image yang diposting pada sebuah blog, setelah saya cek blog tersebut sudah menjadi UFO juga alias menghilang entah kemana.

Estetika adalah seperti rambut wanita yang dapat mempercantik penampilannya, adalah seperti pakaian yang dipakai yang dapat mempercantik dan merubah tampilan karakter dalam sekejap. Bila seseorang memiliki penampilan buruk, rambut tidak pernah di sampo atau disisir (maksudnya bukan rambut gimbal yang memang disisir ga disisir sama aja), muka kusam tidak cerah, pakaian seperti gembel, tentu rata-rata orang tidak tertarik dengan penampilan seperti ini.

Coba bandingkan, perempuan atau laki-laki yang berpenampilan menarik, tentu rata-rata orang menyukai penampilannya, senang bersama dengannya dan memiliki kesan yang baik.

Jadi, estetika sebenarnya sudah ada di dalam diri setiap orang. Tinggal orang yang bersangkutan mau tidak meningkatkan kepekaannya terhadap nilai “rasa” estetika yang sudah ada tersebut. Kalau saya istilahkan mungkin namanya estetika ke dalam.

Lain lagi dengan (istilah saya juga) estetika keluar yaitu estetika yang harus dipelajari yang bukan dari selera pribadi tapi dari selera orang lain. Ini tidak mudah lho! Karena kita harus membiasakan diri mengenal berbagai karakter estetika orang lain atau dengan mempelajari desain-desain yang sudah jadi yang berbeda karakter esetetikanya. Karena desain grafis adalah bagian dari seni aplikatif, maka inilah resiko yang harus dihadapi.

Read More...

Belajar Desain Grafis itu mudah

Desain grafis itu mudah. Desain grafis tidak memberatkan. Karena di dalam desain grafis cuma terdapat 3 unsur pembelajaran yaitu:

1. Ketrampilan teknis 2. Kepekaan estetik dan 3. Pengetahuan komunikasi visual
    Ke tiga unsur di atas ini sebaiknya dipelajari secara bertahap yaitu mengetahui teori-teori dasar lalu praktek. Jadi pada saat masuk ke tahap praktek mendesain “otak” ga blank, karena teorinya sudah nancep duluan di otak. Jadi pas ada masalah bisa nyambung. “Bukan Jaka sembung ya, naik ojek ke Bandung, ga nyambung jack….”

    Teori-teori dasar yang sebaiknya diketahui bagi pemula adalah:

    1. Mengetahui apa itu komunikasi visual atau desain grafis.
    2. Mengetahui dasar-dasar estetika (garis, bentuk dan warna) melalui nirmana.
    3. Mengetahui dasar-dasar makna warna
    4. Mengetahui dasar-dasar tipografi (huruf).
    5. Mengetahui dasar-dasar tata letak / lay out.

    Kalau dasar-dasar desain grafis di atas sudah di lewati baru masuk ke tahap praktek dengan menggunakan tools (software desain seperti adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Macromedia Freehand, Adobe in design, dan sebagainya. Dalam menggunakan sotware ini kita langsung praktek menerapkan teori-teori dasar di atas ke dalam sebuah desain, misal mendesain brosur. Tidak semua software digunakan, kita bisa pilih salah satu atau salah dua, freehand dengan photoshop atau illustrator dengan photoshop.

    Tapi yang jelas yang paling penting penguasaan desainnya meskipun penguasaan software juga penting. Kalau kemampuan desain adanya kan di otak kita, ya kan. Ini lebih langgeng!

    Sedikit cerita pengalaman ya,.. ketika awal saya menggunakan photoshop, belum menggunakan layer seperti sekarang. Undo cuma bisa sekali. Permainan layer lebih banyak menggunakan teknik channel. Bayangin, gimana ga capek, undo cuma bisa sekali, ga ada layer… Saya lupa-lupa inget pakai photoshop versi berapa ya, kalau ga salah masih photoshop versi 1.2…(kalau ga salah ya, lupa-lupa inget sih, soalnya udah lama sekitar tahun 1990-1992). Tapi semua kerjaan lancar-lancar aja tuh. Jadi masalahnya bukan pada software, tapi pada kemampuan desain kita sendiri.

    Ok, lanjut….

    Jadi, tiga unsur pembelajaran yaitu ketrampilan teknik, kepekaan estetik dan pengetahuan komunikasi visual akan terlatih dan terbentuk dengan sendirinya melalui proses teori dan praktek di atas.

    Dan kalau kebetulan anda sudah mengetahui ke 5 dasar di atas, berarti anda tidak lagi harus melewati tahap teori, sebaiknya langsung saja ke tahap praktek. Ya, paling-paling sambil jalan di ingetin lagi teori-teori yang sudah anda ketahui supaya ga lupa.

    KESIMPULANNYA:
    BELAJAR DESAIN GRAFIS ITU MUDAH, ASAL BELAJAR SECARA BENAR SESUAI KAIDAH DALAM KOMUNIKASI VISUAL.

    Read More...

    Senin, 27 Juli 2009

    Desain Grafis bukanlah Corel Draw

    Desain Grafis bukanlah corel draw. Judul tulisan ini agak aneh memang, maksudnya apa? Sebenarnya judul tersebut merupakan expresi kekesalan saya terhadap apa yang terjadi pada sebagian orang yang menganggap Desain Grafis itu mudah, bisa Corel Draw atau Photoshop saja berarti sudah bisa Desain Grafis. Sudah bisa menggunakan Corel Draw, berarti sudah menjadi seorang desainer grafis.

    Jujur saja kalau saya mengatakan dengan bahasa yang agak extrem bahwa anggapan tersebut adalah “SALAH BESAR”.


    Desain Grafis adalah ilmu komunikasi visual yang dilandasi kemampuan berpikir dan ketrampilan artistik. Suatu disiplin ilmu yang berhubungan erat dengan komunikasi dan marketing. Sehingga seorang Desainer Grafis dapat menyerap dan mengimplementasikan konsep dari komunikasi dan marketing.

    Bayangkan, baru saja bisa menggunakan Corel Draw, Freehand atau Photoshop merasa sudah menjadi Desainer Grafis. Walah,…walah… bisa ancur dunia Desain Grafis Indonesia.

    Padahal seperti kita ketahui, Corel Draw, Freehand, atau Photoshop dan software pendukung Desain Grafis lainnya hanyalah sebagai alat/tools yang digunakan untuk mengimplementasikan suatu desain melalui komputer (digital). Tanpa software-software tersebut mana mungkin dapat menghasilkan karya desain yang sempurna bentuk maupun warnanya. Dan software-software ini memang menjadi andalan untuk desain, final artwork untuk cetak dan multimedia.

    Di era digital saat ini kemampuan mengopoperasikan software Desain Grafis adalah mutlak. Tanpa kemampuan ini seorang desainer grafis akan mendapat kesulitan dalam mewujudkan ide-idenya bahkan kesulitan untuk dapat bekerja sama dengan sebuah perusahaan/agency misalnya yang notabene semua hasil pekerjaan saat ini serba digital.

    Lain lagi dengan istilah "setting" yang saat ini di beberapa kalangan dianggap sebagai Desain Grafis. Ini juga termasuk pendapat yang "SALAH BESAR". Karena "setting" pengertiannya adalah menyusun atau menata letak. Jadi pengertian "setting" bukanlah Desain Grafis.

    Kata "setting" mengingatkan saya pada sekitar tahun 90an dimana era digital belum begitu memasyarakat seperti sekarang. Ketika itu, hanya tempat-tempat yang melayani "setting huruf" yang memiliki komputer untuk setting huruf termasuk tempat untuk separasi warna (color separation). Istilah setting memang sangat akrab pada saat itu tapi bukan setting yang dimaksud adalah Desain Grafis, bukan sama sekali tapi memang setting biasanya digunakan untuk mendesain. Dan hasil settingan dalam bentuk kertas "hitam putih" namanya kertas "bromide" (maaf bila salah mengeja).

    Apalagi bila ada sebagian orang yang mengatakan Desain Grafis itu gampang, tinggal ceplok sana ceplok sini tambah warna, tambah photo kasih efek jadi deh. Gampang kan!?

    Jika memang Desain Grafis itu gampang, kenapa harus ada universitasnya, akademinya, kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Di Indonesia sendiri sudah banyak akademi dan universitas yang membuka fakultas seni rupa dan desain dengan jurusan "graphic design" atau "komunikasi visual". Bagi anda yang masih menganggap Desain Grafis itu gampang, mungkin dengan membuka situs ini dapat membuka mata anda tentang Desain Grafis yang sebenarnya: All graphic design dan online school of design.

    Tapi bukan berarti harus kuliah atau kursus terlebih dahulu untuk menjadi seorang desainer grafis, tidak harus. Banyak juga yang ternyata tanpa kuliah atau kursus bisa menjadi desainer grafis yang handal. Bahkan kemampuannya melebihi desainer grafis yang pernah kuliah. Saya sendiri meski pernah kuliah desain grafis tapi rasanya ga cukup tuh, pengalaman tetap nomor satu makanya dari pengalaman saya terus belajar, belajar dan belajar... (baca kembali artikel yang berkaitan dengan paragraf ini: Sang Konseptor

    O ya tulisan ini tidak bermaksud menganggap remeh bidang "setting". Karena bidang setting tetap sangat dibutuhkan dalam dunia desain grafis terutama pada percetakan. Dan seorang desainer grafis yang meniti karir dari kerja "settingan", biasanya menguasai teknik cetak. Dan ini menjadi nilai tambah apalagi dari pengalaman bukan teori.

    Semoga saja tulisan ini bermanfaat dan sedikit memberi pencerahan bagi sebagian kalangan untuk melihat desain grafis pada porsi yang sebenarnya.

    Baik, sampai disini dulu. Bila ada komentar silahkan....

    Related Articles:
    - Desainer grafis vs art director
    - Karir desainer grafis
    - Beda seni murni dan seni pesanan
    - Dasar-dasar desain grafis 1
    - Dasar-dasar desain grafis 2
    - Teknik desain logo dengan Freehand MX

    Read More...

    Rabu, 08 Juli 2009

    Dasar-dasar desain grafis (2)

    Dasar-dasar Desain Grafis 2 ini sebagai lanjutan dari Dasar-Dasar Desain Grafis (1) mengenai dua kemampuan utama yang harus dimiliki seorang desainer grafis yaitu kemampuan kognitif dan ketrampilan visual. Dua kemampuan utama ini merupakan kemampuan yang wajib dimiliki seorang desainer grafis.

    Pada artikel ini saya coba bahas lebih dalam bentuk implementasi ke dua kemampuan di atas.


    Kemampuan Kognitif
    Pada kemampuan kognitif seorang desainer grafis dituntut untuk memiliki kemampuan analisa dan intuitif terhadap 3 hal yaitu:
    1. Tujuan desain
    2. Target market
    3. Tone and manner

    Tujuan desain
    Setiap materi desain grafis memiliki tujuan masing-masing. Desain sebuah brosur dan desain buku tahunan tentu memiliki tujuan yang berbeda. Tujuan desain kalender berbeda dengan desain kartu undangan. Tujuan desain logo berbeda dengan desain company profile. Dan seterusnya.

    Misalnya kita mendapat order mendesain kalender. Tujuan desain kalender ini selain sebagai kalender tahunan juga digunakan sebagai media promosi sebuah produk/jasa. Dengan mengetahui tujuannya tentu elemen desain seperti visual, typografi dan tata letak (lay out) didesain tidak cuma bagus tapi juga diarahkan agar dapat menarik minat orang untuk memperhatikan kalender tersebut dengan kata lain kalender yang menjual.

    Target market
    Anda pernah melihat desain packaging jamu tradisional seperti jamu tradisional nyonya Meneer? Bila pernah, apa kesan anda melihat desainnya? Apakah berkesan modern atau tradisional? Menurut anda siapa target market/konsumennya? Apakah kelas atas (A), atau kelas Menengah (B) atau kelas bawah (C dan D). Dan pertanyaan - pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan sasaran konsumen produk tersebut.

    Melalui analisa terhadap desain packaging jamu tradisional Nyonya Meneer anda tentu bisa mempelajari bahwa target market/konsumen dapat mempengaruhi karakter sebuah desain.

    Tone and Manner
    Supaya tidak berpanjang lebar anda bisa membaca kembali artikel tentang Tone and Manner.

    Baik, selanjutnya kita membahas tentang Ketrampilan Visual.

    Ketrampilan Visual
    Visual adalah segala sesuatu yang tampak dimata atau dapat dilihat oleh mata dan dapat dirasakan. Seperti gambar 2D atau 3D, warna, image berupa photography atau ilustrasi, huruf-huruf/typografi dengan berbagai model, dan benda-benda sekitar yang dapat digunakan sebagai bagian dari elemen desain.

    Pengertian “dapat dirasakan” adalah bukan dirasakan oleh lidah seperti manis dan pahit atau dirasakan oleh kulit seperti panas dan dingin tetapi dapat dirasakan dalam pengertian kesan. Kesan yang anda rasakan ketika membeli sebuah t shirt bergambar grafis entah dalam bentuk typografi atau ilustrasi misalnya. Setiap orang, wanita atau pria, tua atau muda tentu memiliki kesan berbeda bila disuruh memilih sebuah t shirt. Bila anda wanita dewasa tentu berbeda pilihannya dengan wanita remaja apalagi bila dibandingkan dengan laki-laki remaja perbedaanya akan sangat jelas.

    Disinilah ketrampilan visual sangat dibutuhkan sehingga ketika kita mendesain kita dapat memainkan visual sesuai dengan karakter produk dan sasaran konsumen yang dituju.

    Misal, Jenis huruf/typografi sebuah kata “Feminin” tentu berbeda dengan kata “Macho” atau kata “Dingin” berbeda dengan kata “Panas”. Ini merupakan ketrampilan visual secara typografi. Belum lagi ketrampilan visual secara ilustrasi atau grafis, kita harus dapat menggunakan ilustrasi/grafis yang cocok untuk setiap desain bila membutuhkan ilustrasi/grafis. Ketrampilan visual lainnya seperti warna. Kita harus mampu menggunakan warna yang cocok pada setiap desain yang dibuat. Baca kembali artikel Makna warna.

    O ya, sebagai ucapan terima kasih dari saya karena anda sudah mengunjungi blog ini, silahkan klik link berikut untuk mendapatkan file pdfnya : Dasar-Dasar Desain Grafis. O ya, perlu diinformasikan bahwa berhubung dengan kesibukan dan kendala teknis, DGA kini sudah tidak lagi menyelenggarakan Kursus Desain Grafis Online.

    Baik, saya kira sampai disini dulu dasar-dasar desain grafis (2) Semoga bermanfaat. Seperti biasa bila ada pendapat atau komentar silahkan…

    Related Articles:
    - Estetika dan Komunikasi 1
    - Estetika dan Komunikasi 2
    - Desain logo
    - Visual tanpa Copy?

    Read More...

    Jumat, 26 Juni 2009

    Dasar-dasar desain grafis (1)

    Desain Grafis, menurut definisi dari Wikipedia adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis desain lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain).


    Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak (http://id.wikipedia.org/wiki/Desain_grafis).

    Kemampuan kognitif dan ketrampilan visual adalah 2 pilar penting di dalam desain grafis. Paduan Kemampuan kognitif dan ketrampilan visual ini berarti kita harus mampu mengolah data dan informasi produk yang dikomunikasikan (brief klien) agar sesuai dengan karakter konsumen, pesan dapat diterima dan dipahami secara visual maupun verbal (image atau copy/naskah), menarik dan mudah dibaca, dan lain-lain.

    Kemampuan kognitif
    Kalau pakai bahasa sederhananya kognitif adalah berfikir, logika, nalar, dan sejenisnya. Jadi kalau dikatakan seorang desainer grafis harus memiliki kemampuan kognitif berarti adalah desainer grafis harus memiliki banyak wawasan yang luas + kreatifitas. Wawasan tidak cuma berkaitan dengan desain tapi juga banyak hal seperti budaya, teknologi, dan gaya hidup di masyarakat. Seperti perkembangan teknologi digital sangat mempengaruhi teknik desain grafis.

    Kreatifitas tanpa wawasan seperti ngelamun di kamar mandi mencari inspirasi tanpa pernah membaca informasi dan perkembangan yang terjadi di luar rumah (Hehehe,…. Ini sih bukan desainer grafis tapi dasar tukang ngelamun mending jadi illusionist aja maksudnya tukang cari ilusi/ngemalun).

    Ketrampilan visual
    Dengan kemampuan visual, si desainer grafis harus tahu bagaimana mengkomunikasikan pesan produk dengan tepat secara visual yaitu karakter lay out, bentuk, warna dan tipografi (baca artikel tone and manner), mengexplorasi bentuk visual baik 2D maupun 3D (bentuk nyata) menjadi suatu kesatuan desain yang menarik dan tepat sesuai dengan pesan komunikasi produk dan juga mengetahui implementasi materi/bahan desain seperti penggunaan jenis kertas, teknik cetak, ukuran, efektifitas bahan, dan sebagainya.

    Oleh karena itu, kolaborasi antara kemampuan kognitif dan ketrampilan visual sangat menentukan keberhasilan suatu desain.

    Makanya bila anda mendengar langsung seseorang bicara bahwa desain grafis itu gampang, cuma ceplok sana, ceplok sini, jadi! Kalau mendengar omongan yang beginian jangan marah ya, simpan di hati aja.

    Nah, selain 2 dasar di atas seorang desainer grafis juga harus menguasai software/tools desain yaitu

    1.Destop Publishing /media cetak:
    - Adobe photoshop,
    - Adobe Illustrator/Macromedia Freehand/Corel Draw
    - Adobe In Design

    Dan beberapa software pendukung bila dibutuhkan yaitu:

    2.Webdesign:
    - Macromedia Dreamweaver
    - Microsoft Frontpage

    3.Audiovisual:
    - Adobe After Effect
    - Adobe Premier
    - Final Cut
    - Adobe Flash, atau sebelumnya Macromedia Flash

    4.3 Dimensi/Animasi:
    - 3D StudioMax
    - Maya
    - AutoCad

    Sampai disini dulu Dasar-dasar desain grafis 1, kita lanjutkan pada Dasar-dasar desain grafis 2. Bila ada pendapat atau komentar silahkan…

    Related articles:
    - Estetika Komunikasi
    - Desainer Grafis vs Art Director
    - Mendesain logo
    - Karir desainer grafis
    - Makna warna

    Read More...

    Minggu, 21 Juni 2009

    Tone and Manner

    Bila anda pernah bekerja di agency graphic house atau advertising pasti sering mendengar dua kata ini “tone and manner”. Karena biasanya di dalam salah satu item Job brief terdapat kalimat “tone and manner”. Namun bagi anda yang belum pernah bekerja tentu bertanya-tanya mahluk apa itu “tone and manner”. Baik, saya akan menjelaskan untuk anda apa itu “tone and manner”.


    Jujur saja pada awal-awal bekerja di agency, membaca brief pada item “Tone and Manner” saya sering lupa dan mengulang membaca lagi job brief supaya tidak salah dalam pengerjaan desain. Akhirnya setelah sering berulang mendapat brief dimana item “Tone and Manner” selalu muncul. Akhirnya saya bisa menyimpulkan sendiri tanpa harus mengulang membaca item tersebut.

    Tapi sebelum itu saya ingin bertanya kepada anda. Apa saja sih yang anda pikirkan bila mengerjakan sebuah desain. Untuk siapa desain dibuat? Bagaimana bentuk lay out dan warnanya? Ukurannya? (bila membuat desain tertentu seperti packaging, undangan, buku atau brosur). Imagenya seperti apa? (foto atau ilustrasi). Pakai font apa? Dan masih bantak pertanyaan selama proses mendesain.

    Nah, semua pertanyaan di atas sebenarnya terjawab hanya dengan dua kata “tone and manner”.

    Jadi bila “tone and manner” untuk desain brosur sebuah apartment misalnya adalah modern, elegant dan simple tentu sudah menjawab semua pertanyaan di atas. Atau contoh lain, “tone and manner” sebuah desain brosur untuk produk parfum dengan target remaja misalnya Tone and Mannernya adalah Feminin, Dinamis, dan Modern.

    Dengan beberapa kata acuan dari “Tone and Manner” tentu anda sudah bisa menyimpulkan sendiri desain seperti apa yang akan dibuat dan tidak perlu berpikir terlalu banyak, ya kan? Bila kita sudah mengetahui bahwa desain harus “feminin” dan “modern” tentu kita sudah bisa mencari font yang berkarakter feminine dan modern yang cocok, warna juga begitu, mungkin lebih cocok ilustrasi daripada foto, dan sebagainya. Untuk membantu, kita bisa mencari referensi pada beberapa desain yang sudah jadi yang memiliki “Tone and Manner” yang sama dari majalah atau internet.

    Sebagai contoh brief Tone and Manner, anda bisa mengunjungi link ini Pinasthika-award student 2009

    O ya ada masukkan dari mas Habibie dari belajardesain@yahoogroups.com simak tambahannya:

    Salam kenal sebelumnya,

    Tone & Manner dari sebuah Brand bisa diartikan serangkaian sifat, nilai dan kepribadian yang dimiliki oleh Brand tersebut. Karena Brand memiliki personalitas layaknya manusia, maka cara kita untuk menentukan Tone & Manner sebuah brand adalah dengan mengasosiasikannya dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia.

    Mungkin kita pernah mendengar percakapan seperti ini, "Tolong buatkan logo untuk perusahaan saya yang bergerak dibidang farmasi. Perusahaan Saya ini modern, kokoh, dan dewasa". Secara tidak sadar, serangkaian kata sifat yang kita temui tadi adalah Tone & Manner. Kata-kata yang menggambarkan sifat sang perusahaan layaknya menggambarkan sifat manusia.

    Kata-kata kunci inilah yang menjadi acuan penting bagi seorang desainer untuk menggarap project yang sedang ia kerjakan. kata-kata ini menjadi semacam panduan yang nantinya akan dijabarkan menjadi Mood board, pemilihan warna, jenis tipografi yang dipakai, tata letak, serta elemen-elemen visual lainnya.

    Semoga tulisan singkat ini bisa semakin melengkapi artikel mas Ismail sebelumnya, bila ada kekurangan mohon dilengkapi. trimakasih.

    Habibie



    Baik, Bila ada komentar atau pendapat silahkan….

    Related articles:
    - Positioning
    - Brosur promosi tk

    Read More...

    Rabu, 25 Februari 2009

    Karir desainer grafis pada agency advertising.


    Karir desainer grafis pada agency advertising memiliki peluang yang sangat besar. Apalagi bila didukung oleh kemauan yang tinggi,  mau belajar dan bisa kerjasama dalam tim, maka peluang karir desainer grafis akan semakin terbuka lebar, misalnya dari seorang desainer grafis menjadi art director lalu menjadi creative director.


    Sebelum membahas bagaimana karir desainer grafis ada baiknya kita melihat dulu struktur / divisi / departemen pada sebuah agency advertising.

    Secara umum pada sebuah agency advertising terdapat 3 bidang / divisi yang sangat significant (sangat penting) yaitu kreatif, marketing / account service dan media + strategic planner. Untuk bidang strategic planner tidak semua agency memilikinya mungkin karena memang sumber daya untuk yang satu ini masih terhitung “langka” atau masih berperan ganda dengan bidang marketing. Karena memang seorang strategic planner adalah orang yang sangat menguasai dan berpengalaman di marketing / advertising terutama dalam strategi komunikasi marketing.

    Dimana posisi desainer grafis?

    Desainer grafis berada di dalam departemen kreatif. Secara struktural dari paling atas adalah creative director, copywriter / art director lalu visualizer / desainer grafis. Diantara ketiga struktur ini sebenarnya masih ada associate creative director atau senior art director / copywriter namun tidak semua agency menerapkannya tergantung berapa banyak klien/merk yang ditanganinya. Semakin banyak klien / merk yang ditangani tentu “billing” nya semakin besar. Dengan billing yang besar tentu struktur pada departemen kreatif akan semakin lengkap.

    Dengan posisi struktur berkesan paling di bawah apakah desainer grafis jadi di anggap anak bawang?

    Sebagai sebuah karir, posisi desainer grafis adalah langkah awal yang baik untuk dapat melangkah menjadi junior art director / art director lalu setelah kemampuannya semakin ter-asah bisa saja menjadi seorang associate creative director / creative director. Namun tentunya membutuhkan perjuangan dan usaha yang tidak ringan serta proses yang cukup panjang menyita pikiran dan tenaga.

    Bayangkan kemampuannya harus meningkat jauh melebihi “basic skillnya”. Terutama adalah pengalamannya terlibat dalam proses penciptaan sebuah iklan hingga produksi dan siap tayang plus wawasan dan pengetahuannya tentang konsep kreatif, strategi komunikasi periklanan dan marketing. Makanya bila seorang desainer grafis sudah berhasil menjadi art director saja sudah merupakan kesuksesan besar. Apalagi menjadi creative director masih membutuhkan proses kerja yang sangat panjang kecuali mungkin untuk orang-orang yang memiliki talenta “extra ordinary”.

    Apa sebenarnya creative director? Nanti kita bahas pada artikel yang lain ya.

    O ya, bila ada pendapat lain atau komentar silahkan lho… Salam.

    Read More...

    Sabtu, 21 Februari 2009

    Beda desainer grafis dan art director


    Oleh M.Ismail
    “Dibutuhkan seorang desainer grafis dan art director!” Saya yakin anda terbiasa dengan kalimat ini, khususnya bagi yang anda berprofesi sebagai graphic designerdesainer grafis atau art director.


    Lantas kenapa harus dibedakan desainer grafis dan art director? Bukankah kedua profesi ini memiliki latar belakang skill yang sama. Apa yang membedakan?

    Berdasarkan apa yang saya amati dan saya alami sendiri. Ternyata kedua profesi ini memang berbeda. Meskipun secara skill kemampuan mereka bisa saja sama seperti kemampuan menggunakan computer beserta software untuk desain grafis seperti Macromedia Freehand, Adobe illustrator atau Adobe Photoshop serta memiliki kemampuan visual yang baik.

    Namun yang menjadi dasar kenapa kedua profesi ini berbeda adalah wawasan dan pengetahuan.

    Seorang desainer grafis lebih cenderung mengerjakan desain secara artificial, membuat visual yang bagus dan menarik yaitu bentuk, warna, photography, illustrasi, typografi maupun lay out. Dan bagaimana menciptakan elemen tersebut menjadi sebuah materi komunikasi visual yang dapat mewakili sebuah produk atau jasa.

    Materi yang biasa dikerjakan seorang desainer grafis sebenarnya bisa saja sama dengan seorang art director namun secara “job description” pada sebuah advertising seorang desainer grafis cenderung lebih banyak mengerjakan desain cetak seperti desain buku annual report atau company profile, logo, majalah, newsletter, brosur, poster, flyer, dan sebagainya. Makanya akhirya desainer grafis dimasukan dalam divisi “destop publishing”.

    Atau desainer grafis berada dalam tim yang sama dengan art director tapi cenderung hanya mengerjakan desain seperti diatas plus mengerjakan “Final Art work” dan membantu pekerjaan art director. Karena secara struktural pada sebuah advertising seorang desainer grafis berada di bawah art director.

    Apa kelebihan seorang art director?

    Menurut saya adalah pada wawasan dan pengetahuannya untuk memvisualkan strategi kreatif atau strategi komunikasi. Seorang art director yang ideal harus mampu dan mengetahui untuk siapa iklan itu dibuat dan bagaimana karakter visual yang tepat untuk target market tersebut. Secara eksekusi art director tahu persis bagaimana mewujudkan konsep visualnya.

    Ok, sampai disini dulu khawatir terlalu panjang malah jadi bosan. Kalau ada perbedaan pendapat atau komentar silahkan lho…

    Read More...

      © Blogger template 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com 2008

    Back to TOP