Rabu, 13 Januari 2010

Visual sebagai simbol


Simbol visual sangat dekat di dalam kehidupan sehari-hari kita. Apalagi di kota-kota besar, kita dapat melihat begitu banyak simbol visual yang dipasang, seperti di area pertokoan, billboard, poster, kendaraan umum, bahkan t.shirt yang dipakai. Simbol-simbol visual tersebut memiliki berbagai makna, baik di dalam pergaulan sosial, ekonomi, personal hingga spiritual. Simbol visual tidak hanya terlihat di Negara kita, di seluruh dunia pun kita dapat melihat berbagai simbol visual.

Kenapa visual digunakan sebagai simbol?

Read More...

Sabtu, 07 November 2009

Kunci sukses desainer grafis yang terlupakan


Desainer grafis dituntut untuk menghasilkan karya terbaik. Ketika bekerja sendiri ataupun bekerja pada orang lain. Sebagai desainer grafis tentu karya terbaik tetap menjadi prioritas, menjadi tujuan. Mencari ide hingga setinggi langit dan sedalam lautan, lalu mengeksekusi ide dengan menggunakan berbagai teknik fotografi, ilustrasi, komposisi, tipografi dengan semua keahlian desain kita. Namun, apakah cukup sampai disini?

Jawabannya, tidak!

Meski kita seorang desainer grafis yang hebat dengan ide brilian dan eksekusi visual yang sangat bagus. Namun ada satu hal yang kadang terlupakan dan tetap harus dijaga yaitu sikap atau istilah yang populer yaitu attitude.

Attitide atau sikap berpengaruh sangat besar terhadap kesuksesan karir atau bisnis kita. Apapun status kita, bekerja pada orang lain ataupun bekerja sendiri, attitude tetap harus dijaga.

Menunjukkan Attitude yang tidak baik seperti tidak mau kerjasama, tidak mau di kritik, tidak mau dialog, merasa paling hebat, dengan cara yang tidak menyenangkan adalah attitude yang pada umumnya orang tidak suka. Saya sendiri memaklumi siapa sih yang mau dikritik, siapa sih yang tidak ingin dirinya diakui hebat, dan kalau sudah soal ide dan kreatifitas kadang kita inginnya semua adalah hasil karya kita. Sebenarnya ini menurut saya manusiawi. Hal-hal seperti ini lebih baik cukup ada disimpan di hati.

Ketika kita sedang bekerja pada orang lain atau sedang kerjasama bisnis tentu bila hal-hal negatif diungkap secara sengaja maupun tidak sengaja secara terbuka, tentu siapapun tidak akan menerimanya, ya kan? Karena kita masih memiliki atau masih berada di lingkungan budaya timur yang masih saling menjaga perasaan dan teposeliro. Salah sikap sedikit, bisa berantakan semua urusan.

Jadi kesimpulannya, pengetahuan dan skill saja tidak cukup untuk mendukung kesuksesan kita sebagai desainer grafis. Attitude yang baik juga harus kita jaga.

Read More...

Senin, 02 November 2009

Pentingnya taste dalam desain grafis


Desain grafis bukanlah seni lukis yang seenak senimannya tanpa memikirkan apakah karyanya diterima oleh orang atau tidak. Karya desain grafis harus bisa diterima oleh orang lain yaitu konsumen. Salah satu unsur penting yang mempengaruhi hal tersebut adalah taste / selera desain.

Apa itu taste?

Setiap orang mempunyai taste yang berbeda. Banyak hal yang dapat membentuk taste sesorang diantaranya adalah pergaulan dan lingkungan sosial. Orang yang dibesarkan di lingkungan sosial kelas A , taste desainnya berbeda dengan yang dibesarkan di lingkungan kelas C. Pada pergaulan pun begitu.

Secara sederhana kita bisa lihat dari gaya desain pertokoan atau mall yang terdapat di 2 lingkungan tersebut. Kita bisa merasakan taste yang berbeda bila dalam satu hari kita memasuki ke dua tempat tersebut.

Atau kita memasuki 2 komunitas sosial yang berbeda, satu komunitas dari status sosial kelas A, yang lainnya dari kelas C.

Coba anda buktikan sendiri.

Kita bukan bicara soal desain pertokoan atau mall atau bagaimana bergaul tapi kita bicara soal desain grafis. Apa hubungannya?

Hubungannya sangat erat. Pada setiap pertokoan atau mall pasti terdapat elemen-elemen desain grafis seperti banner, logo, poster, warna, tipografi, ya kan? Nah, dari elemen-elemen tersebut, kita dapat melihar dan merasakan perbedaan taste desain pada kedua tempat yang berbeda lingkungan sosialnya. Pada pergaulan juga begitu, taste desain orang-orangnya tentu berbeda.

Andai saya yang dibesarkan di lingkungan status sosial kelas C, taste yang terbentuk pada diri saya adalah C. Untuk merubah taste yang terbentuk sejak kecil tidak mudah buat saya. Butuh proses dan waktu. Saya harus membiasakan diri memasuki lingkungan dengan status sosial yang lebih tinggi. Melihat dan merasakan bagaimana taste desain pada lingkungan status sosial A. Cara lain, melihat majalah, brosur, logo, buku dan materi desain grafis lainnya dengan taste desain kelas. A.

Sebagai contoh, jika suatu saat saya mendapat order desain grafis, dengan target market kelas A, tentu saya bisa fleksibel mengerjakannya yang sesuai dengan target marketnya atau dengan istilah lain sesuai dengan “Tone and Manner”. Tiba-tiba saya mendapat order desain lagi, bikin brosur untuk target market kelas C bahkan D, wah, ini lagi, taste saya dari kecil masih berasa, ga bakal hilang.

Akhirnya, desain model apapun, dari bergaya elegan sampai bergaya norak dan kampungan saya bisa mengerjakannya. Kalau sudah bisa begini, semakin mantaaap man…!

Read More...
Semua tulisan di blog DGA ini adalah berdasarkan pandangan dan pengalaman dari Mochamad Ismail sebagai penulis dan pemilik blog.
Bila ada hal-hal yang kurang berkenan mohon sampaikan melalui izmild@gmail.com. Terima kasih atas kedatangan anda.

  © Blogger template 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP