Senin, 27 Juli 2009

Desain Grafis bukanlah Corel Draw

Desain Grafis bukanlah corel draw. Judul tulisan ini agak aneh memang, maksudnya apa? Sebenarnya judul tersebut merupakan expresi kekesalan saya terhadap apa yang terjadi pada sebagian orang yang menganggap Desain Grafis itu mudah, bisa Corel Draw atau Photoshop saja berarti sudah bisa Desain Grafis. Sudah bisa menggunakan Corel Draw, berarti sudah menjadi seorang desainer grafis.

Jujur saja kalau saya mengatakan dengan bahasa yang agak extrem bahwa anggapan tersebut adalah “SALAH BESAR”.


Desain Grafis adalah ilmu komunikasi visual yang dilandasi kemampuan berpikir dan ketrampilan artistik. Suatu disiplin ilmu yang berhubungan erat dengan komunikasi dan marketing. Sehingga seorang Desainer Grafis dapat menyerap dan mengimplementasikan konsep dari komunikasi dan marketing.

Bayangkan, baru saja bisa menggunakan Corel Draw, Freehand atau Photoshop merasa sudah menjadi Desainer Grafis. Walah,…walah… bisa ancur dunia Desain Grafis Indonesia.

Padahal seperti kita ketahui, Corel Draw, Freehand, atau Photoshop dan software pendukung Desain Grafis lainnya hanyalah sebagai alat/tools yang digunakan untuk mengimplementasikan suatu desain melalui komputer (digital). Tanpa software-software tersebut mana mungkin dapat menghasilkan karya desain yang sempurna bentuk maupun warnanya. Dan software-software ini memang menjadi andalan untuk desain, final artwork untuk cetak dan multimedia.

Di era digital saat ini kemampuan mengopoperasikan software Desain Grafis adalah mutlak. Tanpa kemampuan ini seorang desainer grafis akan mendapat kesulitan dalam mewujudkan ide-idenya bahkan kesulitan untuk dapat bekerja sama dengan sebuah perusahaan/agency misalnya yang notabene semua hasil pekerjaan saat ini serba digital.

Lain lagi dengan istilah "setting" yang saat ini di beberapa kalangan dianggap sebagai Desain Grafis. Ini juga termasuk pendapat yang "SALAH BESAR". Karena "setting" pengertiannya adalah menyusun atau menata letak. Jadi pengertian "setting" bukanlah Desain Grafis.

Kata "setting" mengingatkan saya pada sekitar tahun 90an dimana era digital belum begitu memasyarakat seperti sekarang. Ketika itu, hanya tempat-tempat yang melayani "setting huruf" yang memiliki komputer untuk setting huruf termasuk tempat untuk separasi warna (color separation). Istilah setting memang sangat akrab pada saat itu tapi bukan setting yang dimaksud adalah Desain Grafis, bukan sama sekali tapi memang setting biasanya digunakan untuk mendesain. Dan hasil settingan dalam bentuk kertas "hitam putih" namanya kertas "bromide" (maaf bila salah mengeja).

Apalagi bila ada sebagian orang yang mengatakan Desain Grafis itu gampang, tinggal ceplok sana ceplok sini tambah warna, tambah photo kasih efek jadi deh. Gampang kan!?

Jika memang Desain Grafis itu gampang, kenapa harus ada universitasnya, akademinya, kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Di Indonesia sendiri sudah banyak akademi dan universitas yang membuka fakultas seni rupa dan desain dengan jurusan "graphic design" atau "komunikasi visual". Bagi anda yang masih menganggap Desain Grafis itu gampang, mungkin dengan membuka situs ini dapat membuka mata anda tentang Desain Grafis yang sebenarnya: All graphic design dan online school of design.

Tapi bukan berarti harus kuliah atau kursus terlebih dahulu untuk menjadi seorang desainer grafis, tidak harus. Banyak juga yang ternyata tanpa kuliah atau kursus bisa menjadi desainer grafis yang handal. Bahkan kemampuannya melebihi desainer grafis yang pernah kuliah. Saya sendiri meski pernah kuliah desain grafis tapi rasanya ga cukup tuh, pengalaman tetap nomor satu makanya dari pengalaman saya terus belajar, belajar dan belajar... (baca kembali artikel yang berkaitan dengan paragraf ini: Sang Konseptor

O ya tulisan ini tidak bermaksud menganggap remeh bidang "setting". Karena bidang setting tetap sangat dibutuhkan dalam dunia desain grafis terutama pada percetakan. Dan seorang desainer grafis yang meniti karir dari kerja "settingan", biasanya menguasai teknik cetak. Dan ini menjadi nilai tambah apalagi dari pengalaman bukan teori.

Semoga saja tulisan ini bermanfaat dan sedikit memberi pencerahan bagi sebagian kalangan untuk melihat desain grafis pada porsi yang sebenarnya.

Baik, sampai disini dulu. Bila ada komentar silahkan....

Related Articles:
- Desainer grafis vs art director
- Karir desainer grafis
- Beda seni murni dan seni pesanan
- Dasar-dasar desain grafis 1
- Dasar-dasar desain grafis 2
- Teknik desain logo dengan Freehand MX

4 komentar:

dobloger 28 Juli 2009 pukul 07.50  

Salam kenal, saya seorang design graphic juga ( lebih tepatnya tukang setting ) untuk percetakan

DGA 1 November 2009 pukul 06.31  

Salam kenal juga! Maju terus! Pengalaman dalam hal setting sangat penting dlm desain grafis... Plus pengalaman mendesain, mantaaap...!

fandy no nikki 21 Desember 2011 pukul 23.54  

Siip, Desain Grafis emang gag cukup kalo Corel Draw atau Photoshop!!!!
jd pengen belajar lebih dalam!!!!

fandy no nikki 21 Desember 2011 pukul 23.56  

SUPER!! Emang gag kan pernah cukup klo cuma Corel Draw atau Photoshop!!!

hummft, jd pgen blajar lbih dalam dan banyak!!

  © Blogger template 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP