Tampilkan postingan dengan label Kreatif Advertising. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreatif Advertising. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2009

Mungkinkah visual tanpa copy?


Iklan, baik itu tv commercial (iklan tv) atau print ad (iklan cetak) selalu disertai visual dan copy. Meskipun ada satu dua iklan tanpa visual seperti iklan Kit-Kat (tv commercial) beberapa tahun lalu yang hanya menggunakan copy dan voice over yang menarik dan lucu. Untuk ini tentu membutuhkan konsep komunikasi dan kreatif yang kuat serta keberanian. Iklan inipun sebenarnya tidak terlepas dari visual yaitu typography yang digunakan pada super imposed copy (copy yang divisualkan dalam bentuk animasi).


Ketika seorang pengarah kreatif merancang sebuah konsep iklan. Tentu yang dipikirkan adalah bagaimana bentuk komunikasi yang tepat (key communication) secara konten atau konteks*. Bagaimana key visual dan key copy untuk iklan tersebut setelah mempelajari “What to say” dari proposal marketing komunikasi. Ketika konsep kreatif diimplementasikan oleh art director dan copy writer kadang terjadi penyimpangan karena pada saat mencari ide visual/copy ternyata banyak ide-ide baru yang muncul. Meskipun memang hal ini sah-sah saja namun bila dibiarkan pekerjaan bisa tidak fokus dan akhirnya konsep atau ide bisa melebar kemana-mana.

Ketika lay out sudah jadi dan siap di review oleh tim kreatif dan marketing. Ternyata ada pendapat “copy nya tidak mendukung visual, daripada copy nya nanggung lebih baik tidak usah pakai copy headline sekalian, visualnya sudah kuat kok untuk mengangkat keunggulan produk”.

Mungkinkah visual tanpa copy? Kalau copy dibuat typografi yang menarik sebagai visual sih tidak masalah, tapi visual tanpa copy? Apakah mungkin persepsi konsumen dibiarkan liar tidak diarahkan! Harusnya terdapat copy yang memperkuat visual sehingga ketika konsumen melihat visual persepsinya dapat diarahkan oleh copy kepada pesan (konten/konteks) dari produk. Bila anda mengamati image pada artikel ini. Dengan visual yang kuat tetap saja membutuhkan copy yaitu “The bite of coffee”. Ketika visual sudah tertancap kuat dibenak konsumen saya yakin visual ini sudah dapat mewakilki pesan produk meskipun tanpa copy. Berani jamin!

Kesimpulan dari artikel ini adalah meskipun visual sudah cukup kuat untuk mewakili pesan keunggulan produk namun copy tetap dibutuhkan untuk mengarahkan konsumen agar persepsinya tidak liar dalam menerima pesan produk. Namun bila secara frekuensi dan kontinuitas iklan cukup tinggi bisa saja visual berdiri sendiri plus merk tanpa copy karena sudah akrab di mata konsumen dan sudah tahu visual tersebut mewakilki keunggulan produk. Namun tentu saja ini harus hati-hati karena jangan sampai “wasting time-wasting money” karena ternyata konsumen belum cukup mengenal visual tersebut. Ingat koboy, ingat Marlboro adalah contoh komunikasi visual yang sangat kuat.


*) Konten adalah keunggulan produk secara nyata, sedangkan konteks adalah keunggulan produk secara emosional. Atau dalam istilah yang terdapat pada buku “Cutting Edge Advertising” yaitu USP (Unique Selling Preposition ) dan ESP (Emotional Selling Preposition). Juga ada istilah yang biasa digunakan yaitu tangible (rasional/nyata) dan intangible (emosional/tidak nyata).

Bagaimana pendapat anda? Silahkan...

Artikel yang berkaitan:
- Syarat iklan
- Iklan yang menjual
- Hard sale-Soft sale

Read More...

Minggu, 26 April 2009

Sang Konseptor


Ide tulisan "Sang Konseptor" ini berawal ketika saya membaca salah satu posting seorang anggota milis Forum ArtDirectorClub@Yahoo.com yang menanyakan ke agency mana dia harus bekerja bila kemampuannya hanya membuat konsep saja atau sebagai konseptor. Pertanyaannya seperti ini:

Subject: [ArtDirectorClub] tanya tentang advertising
To: ArtDirectorClub@ yahoogroups. com
Date: Friday, April 24, 2009, 7:54 PM

Hi All

Saya hanya minta bimbingan & pencerahan saja.

Kalau saya lebih kuat di konsep tapi graphic design nya lebih lemah... Enaknya saya masuk ke industry Advert? Atau ke Graphic House? karena saya jujur saja susah banget untuk membuat suatu graphic dari konsep - konsep yang saya buat... tapi saya ngerti ttg graphic dan bisa ngarah - ngarahin maunya dari konsepnya itu begini begitu. Hanya saja saya kuat di konsep saja.


Enaknya mendaftar / melamar di industry mana? Lalu kalau untuk melamar sbg Conceptor di Agency bisa nggak portfolionya lebih ke arah Concept saja dan visualnya ke arah sketsa / dummy kollase spt itu?

Regards


Jujur saja buat saya pertanyaan diatas cenderung “lugu”. Pertanyaan yang sangat polos karena kurangnya pengalaman dan mungkin saja kurang informasi tentang dunia kerja di agency advertising atau graphic house.

Sebenarnya mahluk apa sih “Konseptor” itu? Apa mungkin seseorang bisa melamar bekeja sebagai “konseptor” saja?

Menurut saya, konsep adalah suatu hasil pemikiran yang masih dalam batas “imajinasi”. Meskipun dilandasi dengan proses pemikiran, analisa dan alasan yang rasional tetap saja sebuah konsep masih berstatus imajinasi. Misal bila seorang strategic planner membuat konsep strategi dan kemudian dipresentasikan ke kien, klien setuju dengan konsep tersebut tapi mungkinkah klien setuju hanya sebatas konsep tanpa implemetasi?

Sehebat apapun konsep atau ide tanpa implementasi tidak akan ada gunanya.

Bila seorang art director mempresentasikan desain iklan produk handphone untuk remaja misalnya. Mungkinkah dia hanya bercerita ke klien bahwa desain tersebut memiliki karakter remaja dengan warna-warna yang berani dan visual trendy. Sosok remaja yang ditampilkan remaja gaul modern yang berani sekaligus kreatif. Huruf-huruf yang dipakai pada headline dan bodycopy adalah huruf dengan karakter remaja. Atau dia membuat sketch yang tidak jelas visualnya (karena dia anggap seorang konseptor tidak perlu menggambar bagus)dan dengan gaya yang meyakinkan menyampaikan kepada klien konsep desain yang dibuat melalui sketch tersebut. Mungkinkah klien mengatakan desainnya bagus tanpa melihat implementasi desain secara visual yang actual atau komprehensif?

Seharusnya ketika seseorang mengaku dirinya sebagai konseptor kreatif konsekwensinya dia harus mampu mewujudkan konsep tersebut dalam bentuk visual baik art maupun copywriting. Adapun bila seorang creative director mengarahkan art director untuk merancang desain iklan tentunya ini sah-sah saja karena seorang creative director berarti sudah memiliki jam terbang yang cukup panjang dan pernah melakukan seperti yang dilakukan art director ataupun copywriter.

Kesimpulannya bila anda bercita-cita ingin bekerja sebagai konseptor pada sebuah agency advertising tanpa pernah melakukan pekerjaan desain atau copywriting. Lupakan saja!

Berikut beberapa tanggapan dari beberapa anggota milis ArtDirectorClub@yahoogroups.com terhadap pertanyaan di atas tadi:

Subject: Re: [ArtDirectorClub] tanya tentang advertising
To: ArtDirectorClub@ yahoogroups. com
Date: Monday, 27 April, 2009, 11:52 PM

Idealnya mungkin seperti itu yah, Art Director hanya membuat konsep aja
tapi realitanya hampir di semua advertising/ graphic house melakukan efisiensi.

Prinsip mereka kalau bisa punya AD yang bisa jadi visualizer, bisa foto2 dikit, bisa bikin mock up, bisa jadi web designer, malah bisa jadi arsitek juga kalo lagi ada event.

Belakangan ini persaingan mencari kerja di dunia kreatif makin ketat, jadi bekali diri dengan kemampuan yang "LEBIH" dari orang lain. Tidak semua orang beruntung bisa kerja di Advertising atau Graphic house besar/multinasional . Kebanyakan dari mereka juga memulai dari yang kecil.

Jadi kalo cuman ngandelin KONSEP doang ditengah persaingan yang keras rasanya terlalu naif. Ngga ada salahnya punya kemampuan Multi tasking

Belajar-belajar dan terus belajar, sampe masuk ke liang kubur...

Subject: Re: [ArtDirectorClub] tanya tentang advertising
To: ArtDirectorClub@ yahoogroups. com
Date: Monday, April 27, 2009, 7:02 PM

mau cerita dikit aja

saya lagi bingung sama pola pengajaran dan kurikulum sekolah-sekolah yang menamakan dirinya sekolah iklan. ceritanya gini.

di tempat saya kerja sekarang, lagi ada yang magang, mahasiswa dari salah satu sekolah iklan (bukan DKV) yang terkenal muahal. mereka gue tanya, mau magang apa, dan dijawab mereka mau magang jadi art director

secara konsep anak2 ini cukup oke, keliatan dari portfolio yang mereka bawa pas ngelamar magang.tapi begitu disuruh eksekusi, pake fotosyop dan vector program, mereka nggak pede, yang dari awal udah defensif bahwa fotosyop mereka tidak bagus, tertatih2 (banget) sampe akhirnya kita pada nanya apakah di sekolahnya ngga diajarin pake program2 itu.

dan jawabannya cukup mengejutkan. mereka diajarin di sekolahnya bahwa art director itu hanya perlu MENGKONSEP dan tidak perlu mengeksekusi (mereka bahkan nanya, "di sini ada eksekutor nggak ya?"). konsep hanya perlu sketching dan sketching nanti ada eksekutor (visualizer? ) yang akan mengeksekusi.

trus kita tanya lagi, kalo gitu, nanti giliran ngelamar kerja ke tempat lain gimana dong?
jawabannya makin absurd. mereka bilang bahwa saat melamar nanti mereka hanya perlu SKETCHING pas lagi interview...

whew....saya jadi ambigu, apa emang gitu kah sekarang keadaan di luar? atau emang seharusnya gitu? karena sepanjang karir gue jadi AD, gue bahkan sempet ngerjain FA sendiri, dan itu di agency multinasional. ..

mohon pencerahannya gan...... soalnya kalo ternyata konsep men-sketch tanpa eksekusi itu terus2an diajarin di kampus2 periklanan, dan pada kenyataannya masih seperti yang saya lakukan yaitu masih bikin layout...aduh sumpah, kesian banget adek2 yang baru mulai masuk ke dunia ini, karena akhirnya jadi JOMPLANG banget antara kuliah sama realita...

mohon pencerahan yaaaaa.... thx..

Subject: Re: [ArtDirectorClub] tanya tentang advertising
To: ArtDirectorClub@ yahoogroups. com
Date: Monday, 27 April, 2009, 8:43 PM

konsep mah gampang sob, semua orang bisa bikin konsep.
Konsep gak terbatas
Kalo eksekusinya? ? meblee hehehehe

menurut gw lu mending belajar graphic design juga biar ngerti minimal
dasar dasarnya, biar ntar kalo bikin konsep gak kebablasan hehehe

dan mending lu jadi owner aja hahaha.


Begitulah tanggapan dari beberapa teman-teman di milis ArtDirectorClub@yahoogroups.com (nama pengirim sengaja tidak saya tampilkan agar tidak menimbulkan "kontroversi") yang tentu saja hampir semua tanggapan memiliki kesan yang sama yaitu konsep harus diikuti dengan kemampuan desain dan visual.

Sampai disini dulu, bila ada pendapat atau komentar silahkan...

Artikel ini ditulis oleh M. Ismail

Artikel yang berkaitan:
- Estetika atau komunikasi (2).

Read More...

Selasa, 21 April 2009

Estetika atau komunikasi? (2)

Oleh: M. Ismail
Artikel ini adalah lanjutan dari Estetika atau komunikasi? (1). Pada artikel sebelumnya kita membahas tentang perbedaan estetika dan komunikasi secara umum. Pada artikel lanjutan ini kita akan membahas hubungan estetika dan komunikasi dengan desain grafis dan advertising.


Di dalam bisnis dan pemasaran, seorang pemilik usaha berani membayar mahal sebuah agency advertising untuk merancang konsep marketing komunikasi dan kreatif dengan harapan agar produknya dapat dikenal oleh target konsumen, diminati dan laku di pasar.

Setelah mendapat brief dari klien, orang-orang marketing dan kreatif di agency advertising berpikir keras mencari konsep marketing komunikasi dan kreatif yang tepat untuk produk tersebut.

Anda dapat lihat ada dua unsur utama pada kalimat di atas yaitu konsep marketing komunikasi dan konsep kreatif. Baik saya jelaskan ya.

Konsep marketing komunikasi dan konsep kreatif saling terkait, masing-masing tidak bisa berdiri sendiri. Konsep marketing komunikasi adalah WHAT TO SAY dan konsep kreatif adalah HOW TO SAY.

What to say marketing komunikasi adalah tentang apa, untuk siapa, bagaimana, kapan dan kemana produk akan di arahkan.

Apa saja keunggulan dan kelemahan produk? Produk untuk siapa? Bagaimana kondisi persaingan dan peluang di pasar? Kapan waktu yang tepat produk dikomunikasikan ke target konsumen? Dan bagaimana strategi membangun merk produk untuk jangka pendek dan jangka panjang?

Ketika what to say sudah selesai, maka giliran orang-orang kreatif yang menuangkan what to say tersebut ke dalam satrategi dan konsep kreatif.

Didalam strategi dan konsep kreatif ini unsur estetika sangat berperan. Apalagi bila what to say nya sangat lengkap dan semua channel di gunakan. Maka estetika visual, estetika musik, estetika film, estetika suara menjadi elemen dalam eksekusi kreatif seperti materi ATL (Above The Line) yaitu print ad, tv commercial, radio spot dan BTL (Below The Line)yaitu poster, brosur, banner, billboard, dan sebagainya.

Banyak unsur yang dapat menjadi sumber inspirasi dan ide kreatif yang sesuai dengan what to say, seperti budaya, karakter dan kebiasaan konsumen, teknologi, sejarah, film, isu yang hot, dan banyak lagi. Dan semua ini harus dikemas dalam eksekusi kreatif dengan elemen estetika yang sesuai dengan produk dan target market.

Setelah what to say dan how to say selesai, maka kita akan mengetahui apakah konsep komunikasi dan kreatif berhasil mencapai sasaran artinya ketika semua materi kreatif sudah tayang pada media tv, radio, Koran, majalah dan media below the line apakah dapat membuat target konsumen tertarik dengan produk, mencoba dan membeli produk tersebuit. Bagaimana persepsi konsumen terhadap produk selanjutnya. Apakah merk produk tersebut dapat terus diingat diantara merk-merk lainnya. Apakah hasil dari “kampanye” produk melalui berbagai media tersebut mampu mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian untuk produk sejenis.

Bahkan impak komunikasi dan kreatif terhadap konsumen dapat mempengaruhii dan menciptakan kebiasaan atau budaya baru di masyarakat yang terbentuk dari tayangan iklan terutama iklan tv. Meskipun bukan tujuan, tapi impak ini sangat mempengaruhi popularitas merk dan alangkah baik pula bila seiring dengan peningkatan penjualan produk dan loyalitas konsumen.

Jadi kalau anda ingin membuat materi promosi seperti print ad atau brosur misalnya meski produknya belum besar jangan hanya berpikir soal bagus atau tidak warnanya, bentuknya, atau tata letaknya tapi juga berpikir komunikasinya. Ok, kita sama-sama belajar ya…

Nah begitulah perpaduan dua unsur utama di dalam advertising yaitu konsep marketing komunikasi dan kreatif. Komunikasi dan estetika.

Ada komentar atau pendapat lain silahkan…

Untuk membaca artikel sebelumnya klik di sini: Estetika atau komunikasi (1)

Read More...

Minggu, 12 April 2009

Estetika atau komunikasi? (1)


Oleh M. Ismail
Beberapa waktu yang lalu saya mampir ke website
desain grafis indonesia dan website dkv-unpas Bandung membaca salah satu artikel yang cukup menarik dengan judul “Estetika atau fungsi”. Saya terinspirasi menulis artikel dengan tema yang sama namun saya sesuaikan dengan topic dalam blog ini yaitu desain grafis dan advertising. Seperti anda baca pada judul di atas yaitu “Estetika atau komunikasi” mirip tapi berbeda.


Apa itu estetika? Dan apa itu komunikasi?

Baik saya akan jelaskan satu persatu ya supaya definisinya tidak rancu, ok.

Estetika adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan seni tepatnya adalah keindahan. Apapun jenis seni baik dalam bentuk visual, audio/musik atau video pastinya memiliki nilai estetika. Jadi tidak ada seni tanpa nilai estetika. Seni murni ataupun seni pesanan semuanya tetap harus memiliki nilai estetika. Jadi nilai estetika adalah universal.

Semua orang berhak mengklaim memiliki nilai estetika pada dirinya meskipun hanya sebatas menyukai namun tetap dapat dikatakan dia memiliki nilai estetika. Sebagai contoh bila anda membeli baju tentu anda akan memilih milih yang sesuai selera anda. Nah, selera anda berarti adalah estetika. Tentunya estetika untuk diri anda sendiri.

Baik sekarang kita bahas apa definisi komunikasi secara sederhana.

Bila anda bicara sendiri tanpa ada satu orangpun yang anda ajak bicara. Apakah ini dikatakan sebuah komunikasi? Menurut saya bukan komunikasi.

Bila anda bicara langsung dengan satu atau beberapa orang dihadapan anda. Apakah ini dikatakan sebagai komunikasi. Belum tentu. Bisa saja apa yang anda bicarakan dengan orang dihadapan anda ternyata tidak nyambung alias mereka tidak mengerti apa yang anda bicarakan.

Bila anda bicara dan ada orang lain yang anda ajak bicara meskipun melalui handphone. Apakah ini dikatakan sebuah komunikasi? Menurut saya ya, ini adalah komunikasi.

Bila anda bicara dengan bahasa tubuh alias bahasa isyarat dan ada orang lain yang anda ajak bicara dan mengerti apa maksud anda. Apakah ini dikatakan sebuah komunikasi? Menurut saya ya, ini adalah komunikasi.

Jadi menurut saya sebuah komunikasi harusah terjadi interaksi dua arah. Misalnya satu bicara yang lain mengerti apa yang dibicarakan dan ada respon terhadap pembicara pertama. Nah, kaitannya dengan desain grafis dan advertising apa?

Baik coba kita kaitkan ya….. Tapi, ups, tunggu dulu rasanya artikelnya kepanjangan ya. Bagaimana kalau kita lanjut aja pada artikel bagian ke dua nanti. Ok…

Kalau mau memberi komentar dulu ga apa-apa kok…

Source image : dreamstime.com

Baca kelanjutan artikel pada: - Estetika atau komunikasi (2)

Read More...

Sabtu, 04 April 2009

Creative Outdoor Advertising


Oleh M. Ismail
Creative outdoor advertising adalah komunikasi periklanan yang menggunakan media luar ruang seperti billboard, banner, baliho, balon, atau panel yang dipasang pada lobi kantor, cinema dan pusat kebugaran seperti yang dilakukan WWF (World Wide Fund).

Ide kreatif WWF ini sederhana namun brilian yaitu setiap orang yang berhenti di depan panel akan menempelkan koin pada panel berupa poster tersebut sehingga membentuk visual binatang yang dilindungi seperti rusa, kura-kura, dan lain-lain.


Setiap orang yang ingin berpartisipasi akan membaca nilai koin yang akan ditempel. Sebelum menempel koin, mereka akan membaca headline: "Make your donation to the WWF Brazil here and see who you'll be helping." Sebuah headline yang sangat persuasif sekaligus informatif yang memancing orang untuk segera menempel koin.

Lihat videonya berikut ini:



Ditayangkan: April 2009
Pengiklan: WWF
Agency: DDB BRASIL
Negara: Brazil
Kategori: Pesan layanan masyarakat

Menarik ga ide kreatifnya? Ok Banget! Bagaimana menurut anda...?

Read More...

Jumat, 27 Februari 2009

Bagaimana membuat naskah iklan yang efektif


Oleh: M. Ismail
Bila anda melihat sebuah iklan. Apa yang membuat anda tertarik? Visualnya? headlinenya? Atau janji yang ada pada iklan tesebut? Apakah anda akan tertarik terhadap iklan yang tidak memberi janji atau tidak berhubungan dengan kebutuhan anda. Saya yakin anda pasti tidak akan peduli dengan iklan tesebut, ya kan?


Bila anda tertarik dengan “janji” pada sebuah iklan. Berarti “Janji” adalah kunci dari sebuah iklan. Betul?

Baik, kita coba bahas ya bagaimana membuat sebuah naskah iklan sehingga audience (pembaca, penonton atau pendengar ) bisa tertarik dan ingin mencoba produk yang di iklankan.

Pada sebuah iklan terdapat dua unsur utama yaitu visual dan copy. Kedua unsur ini saling terkait dan saling mendukung. Sebagus apapun visual selalu membutuhkan naskah untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Begitu juga sebaliknya naskah yang bagus harus dikemas atau di perkuat dengan visual yang menarik sesuai dengan karakter pesan dari iklan tersebut.

Baik, kita membahas naskah iklan…

4 unsur yang menjadi dasar sebuah naskah iklan:

1. Menciptakan motivasi/keinginan dan rasa ingin tahu konsumen.
Headline (judul iklan) sangat menentukan respon konsumen apakah akan memperhatikan iklan atau tidak. Headline yang fokus (single message) pada kebutuhan/keinginan konsumen dan relevan dengan keunggulan produk dapat menarik perhatian/rasa ingin tahu konsumen. Karena kunci sukses sebuah iklan terletak pada headline dan paragraf pertama (tentunya juga visual).

2. Menjelaskan manfaat produk.
Manfaat apa yang akan dirasakan oleh konsumen bila menggunakan produk tersebut. Penjelasan haruslah sesuai dengan “benefit” produk dan tidak “over promise” (janji berlebihan). Dalam penjelasan manfaat ini bisa saja terdapat perbandingan dengan produk lain yang sejenis agar konsumen dapat lebih yakin dan mengetahui kelebihan produk.

3. Memberi bukti manfaat produk.
Penjelasan mengenai bukti manfaat yang dirasakan oleh konsumen sebenarnya lebih tepat bila terpisah sebagai sebuah iklan yang berdiri sendiri yaitu iklan “testimony”. Namun bisa saja menjadi penjelasan tambahan dalam satu naskah dengan iklan produk sebagai bagian dari “unique selling”.

4. Mengajak konsumen untuk mencoba.
Membangun dan meyakinkan kepercayaan konsumen bahwa pilihannya untuk mencoba produk sangat tepat dan yang terbaik. Mengajak konsumen untuk segera mencoba dan membeli produk atau bahasa istilahnya “Ask for action”.

4 faktor di atas hanyalah panduan dasar dalam membuat naskah iklan karena bagaimanapun semuanya tergantung kemampuan kita dalam mengolah kata. Pengolahan kata yang memiliki “rasa” terhadap karakter konsumen yang dituju sangatlah penting. Rasa bahasa terhadap konsumen remaja tentu berbeda dengan konsumen dewasa. Sehingga dapat dikatakan sebagus apapun sebuah naskah bila tidak memliki rasa bahasa yang sesuai dengan karakter target market maka akan sia-sia.

Sampai disini dulu, semoga bermanfaat. Bila ada pendapat atau komentar silahkan lho…

Related Articles:
- Naskah print ad Stop Dreaming Start Action

Read More...

Rabu, 18 Februari 2009

Syarat sebuah iklan yang berhasil


Oleh M. Ismail
Setiap hari terdapat begitu banyak iklan yang kita saksikan terutama iklan tv dan iklan cetak. Untuk memproduksi iklan hingga sampai ditayangkan tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit dari ratusan juta hingga mencapai miliran rupiah.


Tujuan pemilik produk berani mengeluarkan dana iklan sangat besar tentunya demi untuk meningkatkan penjualan dan mendapatkan keuntungan. Tapi bagaimana kalau iklan yang ditayangkan ternyata tidak memiliki impak seperti yang diharapkan. Alih-alih penjualan meningkat, malah sebaliknya iklannya tidak menarik dan tidak membangun minat konsumen untuk mencoba produk. Saya yakin tentu saja mereka merasa kecewa berat dan yang pasti rugi.

Lantas iklan seperti apa yang dapat menciptakan impak positif (brand image) dan membangun minat (curiosity: keingintahuan dan penasaran) konsumen?

Syarat sebuah iklan yang baik dan biasanya sukses yaitu:

1. Menjual
2. Persuasif
3. Unik
4. Relevan
5. Simpel
6. Menghibur


Ke 6 syarat diatas merupakan elemen yang sangat penting yang harus terdapat dalam setiap penciptaan sebuah iklan. Meskipun setiap Creative Director (orang yang bertanggung jawab dalam konsep kreatif) memiliki taste yang berbeda namun ke 6 syarat di atas haruslah tetap menjadi pijakan.

Bagaimana penjelasan selengkapnya mengenai ke 6 syarat tadi. Kita lanjut saja ya pada artikel berikutnya. (Soalnya kalau artkel terlalu panjang biasanya malah bosan membacanya).

O ya, untuk referensi anda bila ingin melihat iklan-iklan tv commercial mancanegara yang unik anda bisa melihatnya disini unique commercial. Atau anda bisa kunjungi situs ini ads of the world. Kalau mau melihat portfolio saya yang lokal mampir ke sini  izmildwork . (hehehe... sambil promosi sampe tahu ada order nyangkut!)

Ingin berkomentar atau ada pendapat lain! Silahkan klik “comment” di bawah ini…

Related Articles:
- Estetika atau komunikasi 1
- Estetika atau komunikasi 2

Read More...

  © Blogger template 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP